Tampilkan postingan dengan label mainan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mainan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Juni 2010

Melihat Peluang Bisnis Rental Mainan Anak




Mainan tak bisa dipisahkan dari keseharian si kecil. Namanya juga anak-anak, sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk bermain. Sebaiknya, mainan anak sebaiknya tidak hanya menghibur, tapi juga mendidik. Untuk mainan edukatif, tentu ayah ibu tak keberatan merogoh kocek lebih dalam.

Hal inilah yang membuat bisnis Rental mainan anak yang sarat muatan edukasi terus berkembang. Umumnya, mainan edukatif terbuat dari dikemas dengan dalam bahan-bahan berkualitas yang aman dimainkan oleh si buyung dan si upik.

Sayang, banderol harga mainan edukasi semacam ini masih lumayan mahal. Masalahnya, usia mainan edukasi terbilang pendek. Seiring bertumbuhnya usia anak, dia membutuhkan mainan baru yang lebih cocok dengan umurnya. Alhasil, mainan lama pun menjadi penghuni gudang, bahkan berakhir di tempat sampah.

Di mata Anita Rachman, kondisi ini adalah sebuah peluang bisnis. Maka sejak Februari 2008, ia membuka usaha penyewaan mainan bernama Michie's Rent'n Play di Jakarta Selatan.

Anita memulai usahanya dengan modal Rp 100 juta. Modal itu dia gunakan memborong aneka mainan impor berbagai merek dari Amerika. Sebut saja, Little Tikes, Step 2, Chicco, dan Vtech. Kini, perempuan berusia 30 tahun ini telah mengoleksi 70 jenis mainan. Masing-masing tersedia empat sampai lima unit.

Dia menentukan tiga pilihan durasi sewa, yakni seminggu, dua minggu, dan sebulan. Harganya tentu bervariasi sesuai dengan jenis mainannya.

Puluhan mainan tadi diperuntukkan bagi bayi hingga anak usia tujuh tahun. "Yang paling banyak diminati adalah perosotan, bahkan sampai waiting list," ujar Anita.

Untuk dapat menyewa, ibu dua anak ini meminta pelanggan menyerahkan fotokopi kartu keluarga (KK), kartu tanda penduduk (KTP), dan berkas pembayaran rekening listrik atau air. "Plus menandatangani kesepakatan bersama di atas materai," imbuhnya.

Untuk mengantisipasi kerugian, Anita mensyaratkan, bila mainan yang disewa rusak, penyewa wajib menggantinya. "Diganti sesuai harga beli saat ini," tandas Anita.

Dalam sebulan, Anita mengaku omzetnya bisa sampai Rp 10 juta. Bahkan, di musim liburan sekolah Juni dan Juli, omzetnya bisa menyentuh Rp 17 juta. "Margin saya Rp 6 juta-Rp 8 juta," ungkapnya.

Grace Natalia juga menekuni bisnis serupa. Sama seperti Anita, pemilik usaha rental mainan mainan Comel ini pun memulai usahanya pada 2008 silam. Setahun sebelumnya, Grace sudah bergumul di bisnis penyewaan kostum, baik untuk anak-anak maupun dewasa.

Lantaran mengurusi bisnis lain, koleksi mainan Grace tak sebanyak Anita. Grace baru mengoleksi 25 jenis mainan. Itu pun, masing-masing hanya satu unit.

Beberapa koleksi rental mainannya adalah mobil-mobilan Kidie Rides yang disewakan dengan harga Rp 1 juta sehari dan Jump Castle Bouncer yang disewakan Rp 250.000-Rp 550.000, sesuai lama pinjam.

Dalam sebulan, dari seluruh usahanya Grace membukukan omzet maksimal Rp 25 juta sebulan. "Margin saya 30%," aku perempuan 28 tahun ini.


Sumber:kontan.co.id
Temukan semuanya tentang Pasang Iklan, bisnis, Iklan Baris, iklan gratis

Rabu, 23 Juni 2010

Tips Dan Trik Memilih Mainan Anak Ramah Lingkungan





Percaya atau tidak, anak Anda hanya membutuhkan sedikit saja mainan baru. Sebab pada dasarnya seorang anak sudah cukup merasa terhibur dengan keberadaan 'mainan' seperti keranjang lucu, pot, atau sendok makan.

Mainan merupakan salah satu kebutuhan utama si kecil dan anda bisa dapatkan di rental mainan. Melalui bermain, buah hati bisa mengembangkan daya pikir dan kemampuan imajinatifnya. Untuk itu saat usia anak masih dini, orang tua diharapkan bisa membimbing anak agar dapat bermain sambil belajar (bukan sebaliknya) semaksimal mungkin.

Berangkat dari kenyataan tersebut, mainan yang dipakai oleh anak jelas memberikan sumbangsih yang tidak sedikit nilainya. Salah memilih mainan bisa menimbulkan berbagai masalah. Apalagi hari-hari ini ada begitu banyak mainan yang dibuat dari bahan-bahan berbahaya, bahkan beracun. Tak hanya berbahaya bagi anak, bahannya pun juga tidak ramah lingkungan. Lalu bagaimana caranya agar orang tua tahu mainan mana yang aman dan mana yang tidak?  Anda bisa mengatasinya melalui rental mainan

Berikut tipsnya

Sensor bahannya

Plastik merupakan bahan yang paling sering digunakan untuk membuat mainan anak. Meski umum, namun mainan dari bahan plastik merupakan bahan yang paling berpotensi untuk disusupi bahan kimia berbahaya lainnya. Untuk menyelamatkan anak yang cenderung doyan mengemut mainannya, maka sebaiknya Anda membatasi penggunaan mainan bahan plastik semaksimal mungkin. Jika mau yang plastik, carilah yang bisa didaur ulang. Selain plastik, Anda bisa memilih bahan kayu, wol, dan material alami lainnya.

Organic go organic

Tak hanya makanan saja yang perlu organik, namun mainan anak juga perlu. Mainan dari bahan organik (bahkan ada produk mainan yang bisa membantu pertumbuhan gigi pada anak) merupakan pilihan yang lebih baik daripada mainan kain konvensional. Agak mahal? Mungkin ya. Lebih aman?

Bahaya besar!

Carilah mainan bebas PVC, timah, BPA dan phtalates. Semua bahan tersebut tidak ramah lingkungan, berarti tak baik juga buat perkembangan buah hati Anda.

Sedikit mainan saja

Percaya atau tidak, anak Anda hanya membutuhkan sedikit saja mainan baru. Sebab pada dasarnya seorang anak sudah cukup merasa terhibur dengan keberadaan 'mainan' seperti keranjang lucu, pot, atau sendok makan. Daripada menghabiskan banyak uang untuk membeli mainan sehat, anda bisa mencoba layanan rental mainan atau anda coba periksa sekeliling Anda, mungkin ada benda-benda yang bisa diolah menjadi mainan anak. Yang penting mainan tersebut bisa menghibur dan mendidik anak. Ide lainnya adalah dengan membuat mainan sendiri (ah, jadi ingat mobil-mobilan dari kulit jeruk bali saat kecil dulu).

Menjadi ibu yang kreatif tentu tidak hanya saat di dapur saja, namun untuk urusan anak, Anda bisa menjadi pencipta mainan-mainan yang bermutu juga lho. Coba yuk!



http://woman.kapanlagi.com
Temukan semuanya tentang Pasang Iklan, bisnis, Iklan Baris, iklan gratis

Rabu, 12 Mei 2010

Potensi Besar Bisnis Penyewaan Mainan Edukasi Anak


Hampir tidak ada anak yang tidak mengenal mainan. Kita tahu bahwa mainan tak bisa dipisahkan dari keseharian si kecil. Begitulah namanya anak-anak, sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk bermain. Ada baiknya bila mainan anak tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik. Untuk mainan edukatif, tentu orang tua tak keberatan merogoh kocek lebih dalam demi perkembangan kecerdasan buah hatinya.

Hal inilah yang membuat business mainan anak yang sarat muatan edukasi terus berkembang. Umumnya, mainan edukatif terbuat dari bahan-bahan berkualitas yang aman dimainkan oleh si buyung dan si upik. Namun sayangnya kadangkala banderol harga mainan edukasi semacam ini masih lumayan mahal. Masalahnya, usia mainan edukasi terbilang pendek. Seiring bertumbuhnya usia anak, dia membutuhkan mainan baru yang lebih cocok dengan umurnya. Alhasil, mainan lama pun menjadi penghuni gudang, bahkan berakhir di tempat sampah.

Bagi seorang berjiwa enterpreneur seperti Anita Rachman melihat kondisi ini adalah sebuah peluang business. Maka dari itu, sejak Februari 2008, ia membuka usaha penyewaan mainan bernama Michie's Rent'n Play di Jakarta Selatan.

Anita memulai usahanya dengan modal Rp 100 juta. Modal itu dia gunakan memborong aneka mainan impor berbagai merek dari Amerika. Sebut saja, Little Tikes, Step 2, Chicco, dan Vtech. Kini, perempuan berusia 30 tahun ini telah mengoleksi 70 jenis mainan. Masing-masing tersedia empat sampai lima unit.

Ia menentukan tiga pilihan durasi sewa, yakni seminggu, dua minggu, dan sebulan. Harganya tentu bervariasi sesuai dengan jenis mainannya. Tarif sewa perosotan anak Michie Climber, misalnya, Rp 95.000 per minggu dan Rp 300.000 per bulan. Contoh lain, rumah-rumahan Princess Play House disewakan dengan tarif Rp 175.000-Rp 500.000. Ada juga mobil-mobilan macam Police Car Patrol yang disewakan Rp 50.000-155.000. Untuk sarana bermain air, ada Water Wheel Play dengan sewa Rp 60.000-Rp 185.000.

Puluhan mainan tadi diperuntukkan bagi bayi hingga anak usia tujuh tahun. "Yang paling banyak diminati adalah perosotan, bahkan sampai waiting list," ujar Anita.

Untuk dapat menyewa, ibu dua anak ini meminta pelanggan menyerahkan fotokopi kartu keluarga (KK), kartu tanda penduduk (KTP), dan berkas pembayaran rekening listrik atau air. "Plus menandatangani kesepakatan bersama di atas meterai," imbuhnya.

Sementara untuk mengantisipasi kerugian, Anita mensyaratkan, bila mainan yang disewa rusak, maka penyewa wajib menggantinya. "Diganti sesuai harga beli saat ini," ucap Anita.

Dalam sebulan, Anita mengaku mendapat omzet hingga Rp 10 juta. Bahkan, pada musim liburan sekolah Juni dan Juli, omzetnya bisa menyentuh Rp 17 juta. "Margin saya Rp 6 juta-Rp 8 juta," ungkapnya.

Anda tertaraik mencoba???


http://www.kompasbisnis.com
Temukan semuanya tentang Bisnis Pasang Iklan  &  Iklan Jasa Iklan Baris